MATEMATIKA dapat Mencegah PERANG

Tulisan oleh Dr. Kadek Adi Wibawa, S.Pd., M.Pd.

Malam ini (pukul 1.45 WIB) saya tidak bisa tidur. Sudah mencoba untuk tidur setelah diskusi panjang lebar tentang pengalaman kepemimpinan bersama teman seasrama, tapi tetap tidak bisa. Saya lupa, hari ini saya minum kopi dua gelas hehee… alhasil mata saya melek terus, sembari pikiran ini terus berpikir tentang menulis.

Salah satu yang terpikir adalah menulis tentang “Matematika dapat mencegah perang” bahasa yang cukup berat untuk malam yang juga berat hahahaha…. tapi saya jamin, ulasannya sangat sederhana dan mudah-mudahan bisa dipahami ^,^

Beberapa minggu yang lalu saya memposting satu soal di akun facebook saya. Soal seperti di bawah ini. (sebanarnya yang lebih tepat “ada berapa banyak segitiga pada gambar di samping? bukan jumlah)

16508171_10208178292667477_3044749238227513564_n

Saya hanya menuliskan bahwa “Ini salah satu soal SD yang keluar kemaren”. Ternyata cukup banyak yang tertarik dengan memberikan like (44 likes) hingga memberikan komentar (55 komentar). Komentar-komentarnya seperti ini (saya pilihkan beberapa saja):

“6”

“3”

“9”

“11”

“15”

“segitiga pada gambar ada 24 + 6 huruf A di pertanyaan yg juga ada segitiganya = 30 segitiga 

“Brp bli? Sy kok 6 ya? Ada jebakan ga nih”

“1”

“16”

Awalnya “19” akhirnya “Setelah liat lg kok jd 21 ya.. wah ini jebakan ya bli ??”

“9 yg bs sy lihat”

Awalnya “10 segitiga,Prof?,kalau kurang,Pak Prof yg melanjutkan” revisi 1 “Jumlahnya 14,Dek , baru mek jero nyeletekan ,alias ngitung lagi.” Revisi 2 “Ketinggalan lagi satu segitiga yg kecil belum dihitung jumlahnya 15 ini dil sudah.” Revisi 3 “Ooooo,ketinggalan lagi dua belum dihitung jumlahnya 17.ini gmn betul,Dek?mek jero menghitung secara manual tdk menggunakan rumus ,kalau ada rumusnya ,kirim,Dek?”

Jawabannya beraneka ragam. Entah kenapa, saya jadi lebih tertarik untuk “memaknai” jawaban yang beragam ini dibanding dengan memberikan jawaban yang benar (sesuai dengan definisi segitiga bukan sesuai dengan pemahaman saya, hehee).

Kira-kira begini ulasan yang saya berikan pada status yang berbeda.

Menarik sekali, pertanyaan mengenai berapa banyak segitiga pada gambar yang saya tunjukkan, mendapat banyak tanggapan. Tepatnya berbagai jawaban.

Saya jadi teringat beberapa bulan yg lalu saat mengikuti seminar international di Jogjakarta (ISMEY SEAMEO QITEP). Ada salah seorang partisipan (guru) bertanya pada pemateri utama kala itu. Pertanyaannya

Bisakah dengan belajar matematika kita dapat mencegah perang? 

What the hell? Itu yg terpikir dalam benak saya. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti itu bisa muncul. Penanya itu juga menyadari kalau pertanyaan itu konyol dan sangat konyol.

Saya tak sepenuhnya menyimak jawabannya, yang pasti seisi ruangan semua tertawa terbahak bahak (termasuk saya, hahahhaa).

Hari ini saya mendapat jawabannya. Jawaban dari banyak segitiga itu bebagai macam. Ada yang mnjawab 1, 6, 9, 17, 19, 24, bahkan 30 bahkan ada yg bingung bahkan ada yg lain juga.

Saya katakan bahwa jawaban 1 benar, jawaban 6 benar, jawaban 9 benar, begitupula jawaban 30. Semua benar sesuai dengan pemahaman yang dimiliki. Benar atau salah hanya terletak pada apa yang kita gunakan sebagai pembanding.

Ketika kita tidak memaksakan pemahaman kita pada orang lain tentu konflik bisa diredam. Perpecahan bisa diredam. Dan perang bisa terhindarkan.

Terimakasih atas pertanyaan dan jawabannya. Saya mau seruputt kopi dulu… Biar sedikit sama dengan deny siregar.. Tapi saya gak mau yang manis… Maunya yang setia ajja…

Ternyata ulasan ini pun mendapat beberapa respon, diantaranya:

Pertama: “Kebebasan berpikir dalam matematika itu yg bikin matematika menyenangkan ???” Saya: “Yeppp… Integral 1 dgn batas 0 sampe 100 hahahaa… Dlu sempet muncul istilah matematika mrngajarkan demokratisasi dalam berpikir”

Kedua: “Sejak kapan matematika bukan jwban atau semua jwban bisa bener ? Atau ilmu tidak pasti mksd saya, mohon pencerahan nya.”Saya:“Sejak x dan y mulai menyerang dan Albert Einstein mengeluarkan teori relativitasnya hehe”

Ketiga: “Beeehh.. kok tumben matematik ga absolut wkwkwkk… Gara2 pilkadal nee” Saya: “Yaa inilah salah satuunya logika yang bikin perang… Gk menggeluti bidang yg dibicarakan tp sudah buat pernyataan yang sifatnya pukul rata hehe… #maafagakserius hehee”

Keempat: “Yg manis yang manis…Hahaha” “Coba cari dbuka lapak kak, siapa tau ada yg setia ?” “Ha-ha-ha… Mun be makatan ne setia, jeg pragat dah novel itu Adi Wibawa” (respon keempat ini mohon jangan ditanggapi, karena diluar konteks, heheee)

 

Saya sangat tertarik dengan pendapat yang ketiga, yang kurang lebih menyiratkan bahwa “Matematika jawabannya harus tunggal, atau matematika harus absolut, kebenarannya bersifat mutlak” Tertariknya karena saya tahu betul bahwa yang memberikan komen ini adalah bukan orang yang mendalami matematika itu sendiri.

Mohon maaf, orang-orang yang tipe berpikirnya seperti ini lah (salah satunya) yang bisa mengakibatkan terjadinya konflik horizontal alias perang. Karena sangat banyak orang yang “mohon maaf” sekali lagi, pemahamannya masih “kurang” apalagi memang bukan bidangnya, tapi MEMBUAT PERNYATAAN YANG SIFATNYA PUKUL RATA atau mengeneralisasi.

Banyak kasus bisa dijadikan contoh untuk memperjelas pemikiran ini.

Yang pasti, matematika semestinya hadir menjadi salah satu solusi untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Selipkan nilai-nilai yang bisa dipetik dari setiap pelajaran yang diberikan (seperti kasus segitiga ini). Nilai-nilai itu jauh lebih penting dibandingkan dengan salah atau benarnya suatu jawaban.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sekarang pukul 2.46 (dini hari), saya masih belum ngantuk, reaksi kopinya masih berjalan… (nangis, hehee).

Yang sudah terlelap selamat tidur. Yang esok terbangun dan membaca tulisan ini, semoga selalu dalam keadaan damai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *